Sastra Tionghoa Peranakan dan Manfaatnya Bagi Sejarah Sastra Indonesia.

 

Sastra Tionghoa Peranakan dan Manfaatnya Bagi Sejarah Sastra Indonesia.


Kesusateraan diartikan sebagai suatu bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah dinamika perjalan bangsa. Kesusateraan lahir dan tumbuh serta bergerak mengikuti dinamika yang terjadi dalam masyarakat. Dalam sejarahnya, sastra yang berkembang di Indonesia merupakan sastra Melayu-China sebelum adanya sastra Indonesia modern. Menurut buku Dari Khasanah Sastra Dunia karya Jacob Sumardjo pada tahun 1885, jenis sastra melayu-cina ini diawali dari terjemahan-terjemahan yang disatukan kembali sehingga menjadi sebuah sastra. Tulisan-tulisan orang Indonesia maupun Tionghoa peranakan yang digambarkan secara singkat di atas, masih menampakkan wataknya asimilatif atau pembauran.

Karya sastra para peranakan Tionghoa berlatar masa 1870-1960. Karya Sastra Melayu Tionghoa menggambarkan dinamika yang terjadi semasa puncak Pax Nederlandica (masa keemasan penjajahan Belanda) dan beberapa dekade awal kemerdekaan Indonesia.

Lalu di dalam penelitian Claudine, ditemukan bahwa Oey Se karya Thio Tjin Boen dan Lo Fen Koei karya Gouw Peng Liang adalah dua prosa asli pertama Kesastraan Melayu Tionghoa yang terbit di tahun 1903. Hal ini berarti karya-karya itu telah muncul 20 tahun lebih awal dibandingkan karya Sastra Balai Pustaka.

Secara kuantitatif, menurut perhitungan Claudine Salmon, selama kurun waktu hampir 100 tahun (1870-1960) kesusastraan Melayu-Tionghoa ada 806 penulis dengan 3.005 buah karya. Bandingkan catatan A. Teeuw, selama hampir 50 tahun (1918-1967), kesusastraan modern Indonesia asli hanya ada 175 penulis dengan sekitar 400 buah karya.

Prosa asli karya orang Tionghoa seperti : Oey Se (1903) karya Thio Tjin Boen, Lo Fen Koei (1903) karya Gouw Peng Liang, Tjerita Han King Boe Jang betoel Soedah Terjadi Di Residentre Besoeki (1910), Drama di Boven Digoel (1920-an) karya Kwee Tak Hoay.

Menurut Liang Liji, jika dilihat dari proses sejarah, keturunan Tionghoa seharusnya dipandang sebagai salah satu komponen dari nasion Indonesia yang baru terwujud pada awal abad ke-20. Dengan demikian sudah semestinya kesastraan Melayu-Tionghoa juga termasuk dalam kategori sastra Indonesia.

Dalam buku itu Claudine diperlihatkan bahwa pers Melayu-Tionghoa dan para penulis peranakan Tionghoa memainkan peranan besar dalam menyebarluaskan bahasa Melayu sebagai lingua franca di Indonesia sejak tahun 1890-an. Bahasa Melayu yang digunakan pengarang peranakan tidak ada bedanya dengan bahasa Melayu kaum nasionalis Indonesia awal abad XX.

Bahasa inilah yang menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia. Serta Dengan demikian, pengarang peranakan Tionghoa turut memperkembangkan khazanah sejarah kesusateraan Indonesia. Bahkan bisa juga disebut sebagai pembuka jalan menuju sastra Indonesia Modern.



Daftar Pustaka: 

[1] Priyadi. 2009. “Sastra Peranakan Tionghoa: Sastra Yang Tercecer”, http://bahenju.blogspot.com/2009/07/sastra-peranakan-tionghoa-sastra-yang_13.html, diakses pada 27 November 2020 pukul 18.14

[2] Erowati, Rosida dan Ahmad Bahtiar. 2001. Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Lembaga penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Novel The Chronicles of Narnia: The Horse and His Boy (Kuda dan Anak Laki-Laki)

Contoh Simbol Fonetik dalam Bahasa Indonesia.

Cara Membuat Misro dalam Bahasa Sunda