Resensi Novel The Chronicles of Narnia: The Horse and His Boy (Kuda dan Anak Laki-Laki)

 

Resensi Novel


A.    Identitas Novel

Judul: The Chronicles of Narnia: The Horse and His Boy (Kuda dan Anak Laki-Laki)

Penulis: C.S. Lewis

ISBN: 978-979-22-1629-5

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Kota terbit: Jakarta

Tahun terbit: 2009

Tebal halaman: 312 halaman

 

B.     Sinopsis Novel

NARNIA...

Tanah di mana para kuda bisa berbicara...

Pengkhianatan mengintai...

Dan takdir menanti.

Dalam perjalanan penuh tantangan, empat pelarian bertemu dan bergabung. Meski awalnya mereka hanya berusaha membebaskan diri dari kehidupan yang kejam dan menekan, tak lama kemudian mereka mendapati diri mereka berada di tengah-tengah pertempuran dahsyat. Pertemuan yang akan memutuskan bukan hanya nasib mereka, tapi juga nasib Narnia.

Ini kisah petualangan yang terjadi di Narnia, Calormen, dan tanah yang berada di antara keduanya, pada zaman keemasan ketika Peter merupakan Raja Agung Narnia dan adik laki-laki juga dua adik perempuannya menjadi raja dan ratu di bawah pimpinannya.

            Di masa-masa itu, jauh ke arah selatan di Calormen, pantai kecil lautnya, hiduplah nelayan bernama Arsheesh yang memiliki anak laki-laki. Nama anak itu adalah Shasta. Shasta berbicara dan mengeluhkan nasibnya pada kuda milik tamu ayahnya, dan tiba-tiba si kuda menjawab semua yang ia ucap. Shasta sadar bahwa kuda itu bisa bicara. Kuda yang bernama Bree itu mengajaknya pergi ke negeri asalnya, Narnia.

Merasa percaya pada kuda itu lalu Shasta menyetujuinya dan mereka pergi diam-diam. Di tengah perjalanan, mereka bertemu Aravis dan kudanya. Kudanya pun dapat berbicara sama seperti Bree, ia bernama Hwin yang juga berasal dari Narnia. Mereka sama-sama ingin pergi ke Narnia. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada seseorang yang menarik dan memukul Shasta. Pada saat Shasta tidak sadarkan diri, dia dibawa ke rumah yang bisa disebut kerajaan.

Yang membuat Shasta bingung adalah bahwa mereka semua memanggil Shasta dengan sebutan Pangeran Corin. Shasta duduk dan beristirahat, tetapi Shasta bisa mendengar pembicaraan mereka. Di kamar, tiba-tiba ada anak yang memanjat jendela. Mereka sama-sama terkejut karena wajah mereka sangat mirip, dan Shasta yakin bahwa anak itu adalah Pangeran Corin. Ia pun sadar bahwa ia dibawa ke kerajaan itu karena mereka semua mengira ia adalah Pangeran Corin. Corin diam-diam mengajak Shasta berperang. Saat perang berlangsung, Shasta sangat tegang. Tetapi akhirnya Narnia dan Archenland berhasil menang. Setelah itu, Raja Lune datang, menyambut keberanian anaknya.

Aravis membukakan pintu, dia terkejut ada seorang Pangeran di hadapannya. Itu Shasta. Shasta menceritakan bahwa dia dan Corin kembar, dan dia bernama asli Cor. Dulu, waktu Cor dan Corin lahir, centaurus peramal memberitahu bahwa Cor akan menjadi penyelamat Archenland dan Narnia. Tapi ada pria jahat bernama Lord Bar yang mendengar ramalan itu dan membawa Cor pergi sebelum Raja Lune berhasil menghentikannya. Cerita selesai, dan nyatanya Cor berhasil menyelamatkan Archenland dan Narnia dengan cara memberitahukan bahwa Calormen akan menyerang.

Cor akhirnya menjadi Raja Archenland setelah Raja Lune meninggal. Cor dan Aravis menikah dan mempunyai anak Ram Agung dan menjadi Raja yang paling terkenal. Sementara Pangeran Corin dijuluki si tinju petir karena tidak ada yang bisa mengalahkannya, walaupun Raja Cor sendiri. Bree dan Hwin juga menikah tapi tidak satu sama lain.

 

C.    Penilaian buku

Kelebihan: Dalam novel ini penggunaan terjemahan bahasanya tidak berbelit-belit, sehingga dapat dipahami dan memunculkan imajinasi yang beragam terkait kisahnya. Kisah cerita dalam alur buku ini juga membuat pembaca serasa ikut masuk ke dalam petualangan Shasta dan Bree.

Kekurangan: Mungkin pembaca akan mengerti secara mendetail alurnya jika membaca dari seri-seri sebelumnya.


#Unsika

#UniversitasSingaperbangsaKarawang

#PBSIUnsika

#nulisbersama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Contoh Simbol Fonetik dalam Bahasa Indonesia.

Cara Membuat Misro dalam Bahasa Sunda