Rangkuman Singkat Sejarah Pendirian ASEAN dan PBB


Latar Belakang Pendirian ASEAN

Persatuan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) mula dibentuk dengan penubuhan sebuah pertubuhan yang dikenali sebagai Persatuan Asia Tenggara (Association of Southeast Asia atau ASA) yang dianggotai oleh Filipina, Malaysia dan Thailand pada tahun 1961. ASA merupakan asas kepada pembentukan ASEAN sekarang.

Akibat daripada pembentukan Malaysia pada 16 September 1963, pertikaian berlaku khususnya antara Indonesia dan Filipina yang menganggap pembentukan Malaysia sebagai satu bentuk penjajahan baru. Ini kerana mereka mendakwa Sabah dan Sarawak merupakan sebahagian daripada negara mereka.

Oleh kerana pertikaian tersebut, munculnya slogan Ganyang Malaysia yang membawa kepada konfrontasi pada 1965-1966 oleh Indonesia. Selepas tamatnya konfrantasi tersebut, semua negara-negara Asia Tenggara bersepakat untuk mewujudkan persefahaman untuk memberi ruang kepada semua negara-negara terbabit bersatu dalam perkara yang melibatkan kepentingan bersama.

Maka, pada 8 Ogos 1967, lima pemimpin - Menteri Luar Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura dan Thailand (Adam Malik, Narciso R. Ramos, Tun Abdul Razak, S. Rajaratnam dan Thanat Khoman) - duduk bersama di dewan utama Jabatan Hal Ehwal Luar di Bangkok, Thailand dan menandatangani satu dokumen yang kini dikenali sebagai "Deklarasi ASEAN".[1]

Papua New Guinea diberikan status negara pemerhati pada 1976 dan pemerhati khas pada 1981.[2] Brunei menganggotai ASEAN pada 8 Januari 1984 iaitu seminggu selepas mencapai kemerdekaan.[3]

Hanya selepas 11 tahun kemudian barulah ASEAN menerima anggota baharu. Vietnam menjadi anggota yang ketujuh pada 28 Julai 1995.[4] Laos dan Myanmar menjadi anggota dua tahun kemudiannya, iaitu pada 23 Julai 1997.[5] Walaupun Kemboja sudah menyertai ASEAN bersama-sama Myanmar dan Laos, negara itu terpaksa menangguh disebabkan masalah politik dalam negara tersebut. Kemboja menyertai semula ASEAN pada 30 April 1999.[6]

Negara baharu Timor Leste, dahulunya dalam Indonesia, terpaksa berhempas pulas untuk mendapat status pemerhati dalam ASEAN. Namun, banyak negara dalam ASEAN tidak menyokong penglibatan Timor Leste pada akhir 1990-an atas rasa hormat kepada Indonesia. Myanmar, terutamanya, menentang pemberian status pemerhati kepada Timor Leste kerana sokongan Timor Leste terhadap perjuangan Aung San Suu Kyi. Sejak kemerdekaan Timor Leste pada Mei 2002 dan diterima sebagai negara pemerhati, ASEAN telah banyak membantu negara baru ini


 

Latar Belakang Pendirian PBB

PBB merupakan salah satu organisasi internasional yang paling akrab di telinga kita. PBB beranggotakan sebagian besar negara di dunia. Awal mula terbentuknya PBB adalah untuk menggantikan LBB (LIGA BANGSA-BANGSA). Terbentuknya LBB adalah ketika Perang Dunia (1914-1918) diakhiri dengan Perjanjian Versailles tahun 1919 antara pihak yang kalah (Jerman Raya, Austria, dan Turki) dengan pihak yang menang (inggris dan perancis). Salah satu hasil dari perjanjian tersebut adalah akan dibentuknya LBB.

 Pemrakarsa pembentukan LBB adalah Presiden Amerik Serikat, Woodrow Wilson. LBB dibentuk pada tanggal 10 januari 1920 dan berkedudukan di Swiss (negara netral). LBB beranggota kan 28 negara Sekutu dan 14 negara netral, yang kemudian berkembang menjadi 60 negara. Dalam perkembangannya, LBB tidak mampu mewujudkan perdamaian dunia karena negara-negara anggota LBB masih tetap melakukan agresi terhadap negara-negara lain. Kemudian satu per satu negara anggota mengundurkan diri dari keanggotaan.

 Pada tanggal 1 september 1939 pecahlah Perang Dunia II. Hal itu ditandai dengan penyerbuan Jerman atas Polandia dibawah kekuasaan Nazi pimpinan Adolf Hitler dan muncul kekuasaan Fasis pimpinan Mussolini (Italia) serta Jepang yang menyerang Pearl Harboar. Kemudian pada tanggal 14 agustus 1941 diadakan sebuah pertemuan antara Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dan Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt. Pertemuan yang berlangsung diatas kapal AS Augusta diperairan New Foundland Samudra Atlantik ini menghasilkan Piagam Atlantik (Atlantic Charter ).

 Tidak membenarkan adanya perluasan wilayah (politik ekspansi)  Setiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri (right of self determination)  Setiap negara berhak dan bebas ikut serta dalam perdagangan di dunia. Perlu diciptakan perdamaian dunia sehingga semua bangsa bebas dari rasa takut dan kemiskinan. Mengusahakan penyelesaian sengketa secara damai.

Kemudian, pokok-pokok Piagam Atlantik tersebut menjadi dasar konferensi-konferensi Internasinal dalam menyelesaikan Perang Dunia II dan menuju pembentukan PBB. Beberapa pertemuan dalam menyelesaikan Perang Dunia II dan menuju perdamaian yaitu sbb: 30 Oktober 1943, di Moskow dilahirkan Deklarasi Moskow tentang Keamanan Umum yang ditandatangani Inggris, USA, Rusia, dan Cina. 21 agustus-7 oktober 1944, dilangsungkan Konferensi Dumbarton Oaks (Dumbarton Oaks Conference) yang diikuti oleh 39 negara membahas tentang rencana pendirian badab internasional PBB. 4 Februari 1945, diadakan Konferensi Yalta. Pertemuan itu dihadiri F.D Roosevelt dari Amerika Serikat, Winston Churohil dari Inggris, dan Joseph Stalin dari Uni Soviet. Hasil konferensi dikenal dengan Rumus Yalta ( Yalta Formula) , diantaranya menyetujui untuk mengadakan Konferensi PBB di Amerika Serikat.  25 April-26 Juni 1945 dilangsungkan Koferensi San Fransisco yang dihadiri 51 utusan dari 51 negara. Dalam konferensi tersebut berhasil dirumuskan Piagam Perdamaian atau Charter for Peace (Piagam PBB). Piagam ini ditandatangani oleh ke 51 utusan negara tersebut. Piagam tersebut mulai berlaku tanggal 24 Oktober 1945, yang kemudian dikenal sebagai hari lahirnya PBB.

PBB bermarkas di New York, Amerika Serikat, tetapi tanah dan bangunannya adalah wilayah Internasional. PBB memiliki bendera,prangko, dan kantor pos sendiri.  Negara indonesia resmi menjadi anggota PBB ke-60 pada tanggal 28 september 1950. Akan tetapi, indonesia sempat tercoret dari keanggotaan PBB pada tanggal 20 januari 1965 ketika Presiden Soekarno menarik diri dari badan dunia tersebut. Hal tersebut tidak berlangsung lama karena pada tanggal 19 September 1966 Indonesia mengajukan diri sebagai anggota PBB lagi. Permohonan tersebut diterima oleh Majelis Umum PBB. Oleh karena itu, terhitung sejak tanggal 28 September 1966 Indonesia kembali menjadi anggota PBB lagi.

 

Terima kasih telah berkunjung di Blog saya^^

Komentar